Home » » TINJAUAN PUSTAKA CARA MENGHITUNG INDEKS KOMPETISI TAJUK JATI

TINJAUAN PUSTAKA CARA MENGHITUNG INDEKS KOMPETISI TAJUK JATI

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Hutan Jati (Tectona grandis)
Jati merupakan tanaman budidaya yang memiliki sejarah panjang. J.W.H. Cordes (Insp. V. h. Boschwezen in Ned. De Djatibosschen op Java Ogilvie Batavia & Co. 1881 dalam Poerwokoesoemo (1975)) menerangkan dalam “ De Djatibosschen op Java halaman 129”, bahwa hutan Jati di Jawa terdapat di bagian tengah dan timur. Untuk kondisi di Jawa Barat dimana tanahnya terdiri dari tanah pegunungan vulkanis, Jati hanya terdapat di tempat-tempat tertentu saja. Iklim yang kering, panas dan tak tentu dari Jawa Timur dan Jawa Tengah merupakan faktor-faktor yang membantu dan memajukan tumbuh suburnya pohon Jati, hal ini berbeda dengan kondisi iklim di tanah pegunungan. Dalam arah meninggi, Jati mempunyai wilayah terbatas, yaitu 2000 kaki. Tinggi 2000 kaki ( 650 m ) dari permukaan laut ini boleh dianggap sebagai batas dari hutan Jati. Pengukuran dan perpetaan hutan Jati di Jawa mulai tahun 1860 menggambarkan tempat-tempat tumbuh hutan Jati di seluruh Jawa, dengan kekecualian dari beberapa kelompok hutan Jati, misalnya dari Banyuwangi, Jogjakarta dan sebagian dari Surakarta.
Menurut Rumphius (1628-1702) dalam Poerwokoesoemo (1975) yang nama aslinya Rumphia, menulis tentang Jati sebagai berikut:
1. Kiati-boom (Jatus Cayu Jati). Di Jawa dan sekitarnya Jati termasuk jenis hutan yang tertinggi, berbatang lurus, halus dan panjang sebelum berdahan dan beranting. Menurut keadaan kayunya, Jati mempunyai dua jenis, yaitu Jati Jantan dan Jati betina.
2. Jati mempunyai daun yang terlebar, yang telah kami ketahui, kecuali Folium mapparum, jenis mana di tempat ini amat jarang terdapat, karena daun Jati dari daun muda panjangnya 3 kali dan lebar 20 dim, kebelakang menjadi sempit pada gagang daun yang tebal hingga tangkai daun ini bundar bangunnya.
3. Pohon Jati tidak akan berbunga dan berbuah sebelum cukup umur. Di Jawa Jati berbunga dalam bulan-bulan kering waktu di sana disebut musim kemarau, dan buah Jati didapat sesudah bulan November.
Junghuhn (1853) dalam Poerwokoesoemo (1975) menceritakan “tiekboom” vamili Verbenaceae kayu Jati yaitu Tectona grandis L. fil. (Tectona Spr. Theca alior), yang selalu tumbuh berkelompok, menghambat tumbuhnya jenis tumbuhan lain dari tanah kering, baik tanah keras maupun tanah liat, tanah pasir atau tanah berbatu. Dimana Jati dapat tumbuh dengan subur jenis tumbuhan lain tidak dapat tumbuh dengan baik, kecuali jenis pohon Acacia dan Anonaceae atau Ficus yang dapat tumbuh bersama-sama dengan Jati. Jati dapat merupakan hutan murni yang amat luas dan diwaktu kering atau musim panas mulai bulan Juli muluruh daunnya, hingga memberi pemandangan yang kering dan gundul.
Lebih lanjut, N. Beumee-Nieuwland (1922) dalam Poerwokoesoemo (1975) mengadakan penyelidikan dan pemeriksaan tentang tanah-tanah di hutan Jati di Jawa terutama mengenai hal khemis dan physis dari tanah hutan Jati. Pemeriksaan dan penyelidikan tidak ditujukan kepada pertanyaan tanah apa yang terbaik untuk Jati, tetapi memeriksa tanah apakah yang ditumbuhi oleh Jati. Jati di Jawa berada terpencar di tanah-tanah yang berjenis-jenis ragamnya dan dapat tumbuh dengan baik. Untuk terluas Jati tumbuh di tanah tertiair formasi kapur dan mergel (tertiare kalk en mergel formasi) tetapi ini bukanlah bukti, bahwa Jati amat baik bertumbuh di jenis tanah ini. Di Jawa terdapat juga Jati baik di atas gunung api (vulkanisch) dengan kadar kapur yang amat sedikit. Hutan Jati dengan bonita IV dan V terdapat juga di tanah-tanah yang dulunya mengandung banyak kapur, tetapi kapur itu hampir habis semuanya. Hal demikian membuktikan, bahwa kadar kapur (kalkgehalte) tinggi bukanlah syarat penting untuk tumbuh baik Jati; lagi pula pada umumnya pohon Jati tidaklah memilih-milih susunan khemis dari tanah. Tinggallah kemungkinan, bahwa Jati di tanah kapur tidak dengan pertolongan manusia dapat bertumbuh sendiri dan di tanah yang baik tanpa bantuan manusia tak mungkin bersaingan dengan jenis-jenis pohon lain.

2.2. Metode Penentuan Kerapatan Tegakan
Pengaturan jarak tanam merupakan salah satu cara untuk menciptakan faktor-faktor yang dibutuhkan tanaman dapat tersedia secara merata bagi setiap individu tanaman dan untuk mengoptimasi penggunaan faktor lingkungan yang tersedia. Metode untuk pengukuran kerapatan tegakan didasarkan pada prinsip biologis yang hanya dikenal baru-baru ini yaitu, korelasi yang tinggi antara lebar tajuk pohon yang tumbuh terbuka dan diameternya. Metode ini terbukti berguna untuk estimasi pengurangan tinggi yang disebabkan oleh berbagai derajat stagnasi pada Pinus contorta (Alexander dkk 1967 Daniel. et. al (1995)). Metode ini memberikan alat untuk mengetahui jumlah tekanan sampingan yang dapat ditahan suatu jenis dan memberikan wawasan yang berharga mengapa beberapa jenis mampu tumbuh pada tegakan yang lebih rapat dari yang lain. Metode ini mengukur karakteristik biologis lain suatu jenis yang tidak bergantung pada umur dan tempat tumbuh.
Metode persaingan tajuk dikembangkan untuk memberikan data ruang tumbuh maksimal yang dapat digunakan oleh pohon dan data keperluan pohon minimal untuk mempertahankan tempatnya dalam tegakan (Krajicek dkk., 1961 Daniel. et. al (1995)). Pohon yang tumbuh terbuka harus digunakan untuk mengumpulkan data proyeksi luas tajuk vertial dengan diameter pohon. Hal ini demikian karena hanya dengan pohon yang tumbuh terbuka hubungan luas tajuk dengan setiap diameter setinggi dada tidak dipengaruhi oleh persaingan. Luas tajuk ditemukan berhubungan erat dengan diameter setinggi dada, dan hubungan itu hampir konstan pada suatu jenis tanpa memandang tempat tumbuh dan umur. Terdapat perbedaan yang sangat nyata dalam hubungan diameter tajuk dengan diameter setinggi dada antara Picea dan jenis daun lebar, perbedaan nyata antara Carya dan Quercus rubra, tetapi tidak ada perbedaan nyata diantara Quercus. Dengan demikian suatu pohon dengan ruang tak terbatas tidak dapat menempati lebih daripada luas maksimal tertentu yang sebanding dengan diameter setinggi dadanya.
Meskipun model tegakan dan individu pohon, keduanya dapat menggunakan input data dari sampel plot penelitian, hanya model individu pohon yang memiliki kemungkinan untuk menstimulasi lingkungan kompetitif dari tiap pohon. Lebih jauh data individu pohon teragregasi setelah model menambah tiap pohon , sementara model tegakan mengagregasi data individu pohon pada variabel tegakan sebelum mengoperasiakn model pertumbuahan. Seperti model pertumbuhan, model individu pohon dipersisapkan untuk sebagian spesies atau tipe tutupan dari data sampel yang dikumpulkan dari rentang tertentu lingkungan yang tumbuh. Model ini dengan demikian hanya dapat diaplikasikan dengan baik pada tegakan subyek yang termasuk ke dalam rentang kondisi tegakan sampel yang digunakan untuk membangan model (Davis dkk. Et.al. 1987).
Disamping tinggi, diameter dan variabel lain dari pohon yang digunakan dalam model bebas jarak, tiap individu pohon secara literal dipetakan untuk menentukan jarak, hubungan dan ukuran dari semua pohon berdekatan yang berkompetisi dengan subyek untuk cahaya, kelembaban dan nutrisi ini mengakibatkan posisi beresaing dari tiap pohon menjadi dihitung secara umum dengan keakuratan yang lebih dapat diperkirakan. Kerugian dari model bergantung jarak ini adalah biaya pemetaan pohon yang tinggi dan meningkatnya kompleksitas perhitungan. Juga kita belum menemukan bukti yang terdokumentasi atau study kasus yang menunjukkan keunggulan model bergantung jarak atas model bebas jarak (Davis dkk. Et.al. 1987).
Pengukuran berdasar jarak, dalam Davis dkk. Et.al. 1987, kebanyakan dimulai dengan konsep Steabler’s (1951) tentang zona melingkar dari pengaruh sekitar pohon subyek dimana kehadiran pohoin bersaing akan mengurangi tingkat pertumbuhan pohon subyek. Tingkat kompetisi adalah masuk akal sebagai persentase dari zona pengaruh yang tum,pang tindih oleh pohon-pohon kompetitif. Apakah itu kompetisi kelembaban, cahaya, ataukah nutrisi, akan bergantung pada spesies dan karakterfisik sebagian dari tempat tumbuh bersamaan dengan pohon subyek. Ineks permulaan Steabler adalah:



Dimana: indeks kompetisi untuk pohon j
jarak tajuk tumpang tindih antara pesaing i dan subyek pohon j, dalam kaki
radius pohon subyek, dalam kaki
jumlah pesaing

Indeks ini akan kecil secara numeris dengan pesaing yang sedikit dan sedikit tumpang tindih tajuk.
Hegyi (1974) muncul dengan indeks perhitungan sederhana:



Dimana: indeks kompetisi untuk pohon
diameter tajuk pesaing dan pohon subyek, dalam inchi
jarak antara pesaning dengan pohon subyek, dalam kaki
semua pohon interseksi dengan faktor 10 basal area prisma dirotasi pada tengah pohon subyek

Indeks kompetisi Bella (1971) menentukan porsi area tajuk pohon subyek yang tumpang tindih oleh kompetis dan dipertimbangkan oleh rasio diameter.

Dimana: indeks kompetisi untuk pohon j
area tajuk overlap antara pohon pesaing i dan pohon subyek j, dalam kaki kuadrat
area tajuk pohon subyek j, dalam kaki kuadrat
diameter tajuk pesaing dan pohon subyek, dalam kaki
faktor
semua pohon dimana Oij positif

2 komentar:

  1. ambar yoganingrum31 Agustus 2009 22.48

    Hallo, saya ambar mahasiswa S3 fasilkom UI. Saat ini sedang membuat DSS prediksi produksi madu. Salah satu variabel yang digunakan adalah kerapatan bunga (flower density) apakah kerapatan bunga bisa dipadankan dengan kerapatan tajuk? Bagaimana cara menghitung kerapatan tajuk di hutan? Bisa kirim contoh hasil penelitian yang menghitung kerapatan tajuk? Trims ambaryoganingrum@yahoo.com

    BalasHapus
  2. assalamualaikum,,saya ferry mahasiswa S1 manajemen hutan IPB,,saat in saya sedang mencari analisis regresi hubungan antara diameter tajuk dengan diameter pohon untuk kelas jenis Dipterocarpaceae,,apakah hubungan tersebut memiliki kurang lebih kesamaan dengan yang anda gambarkan dengan pohon jati,,kalau boleh saya ingin tahu lebih mengenai analisis regresi mengenai kedua hubungan tersebut jika dimasukkan ke dalam sebuah persamaan linear..terima kasih..kirim ke
    (((mojilla_preston@yahoo.com))

    BalasHapus

Chit-Chat

Find Us on Facebook

Diberdayakan oleh Blogger.