Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

5/06/2009

SOLUSI ITU BERNAMA PERTANIAN ORGANIK

Semua bilang kita dilanda krisis global, padahal jawabannya berserak di tingkat lokal, ada di desa-desa atau kotakota kecil. Pertanian organik adalah suatu solusi dan keharusan yang harus dilakukan petani. disamping itu, pertanian organik harus berprinsip pertanian terpadu yang berarti
meletakkan kegiatan pertanian sebagai bagian yang utuh bersama dengan peternakan, umah potong hewan, perikanan, perkebunan, dan industri pengolahan hasil pertanian.
Bahkan pengelolaan sampah kota, dimana menjadi masalah besar bagi penduduknya juga dapat dikelola dengan baik asal ada kemauan dari berbagai pihak. Berpikir global bertindak lokal.
Kian beragam komoditas yang dipadukan, kian besar manfaatnya. Pertanian terpadu menghemat banyak hal.
Pertanian terpadu menyediakan jawaban untuk pertanian dan peternakan. Ternak butuh pakan, pertanian butuh pupuk. Keduanya bisa saling menunjang. Petani dapat memanfaatkan gulma sebagai pakan ternak. Begitu juga limbah hasil peftanian seperti dedak, bekatul, batang jagung, jerami, dan kulit kakao. Dari hewan ternak, petani memperoleh sumber nutrisi tanaman berupa urine, kotoran, dan sisa pakan yang dikom poskan. Pola mengelola ladang terpadu seperti itu memungkinkan bila asupan bagi ternak dan kebun berbasis sumberdaya lokal.
Contoh kecil keterpaduan itu mampu mereduksi keempat jenis krisis yang tak hanya mendera orang kota, tetapi juga masyarakat di pelosok Memang baru sebatas lokal. Andai saja model pertanian terpadu diterapkan di semua desa atau kota kecil di seluruh dunia. Bukankah ia menjadi jawaban untuk krisis global? SAMPAH
Krisis pangan antara lain bermula dari penurunan produksi komoditas penghasil pangan. Produksi anjlok karena kesuburan ladang menurun akibat penggunaan pupuk buatan yang kian tahun kian besar penggunaannya. Selain itu ongkos produksi meningkat karena petani tergantung pada pupuk dan pestisida pabrikan. Sebuah kota kecil menghasilkan sampah 130-150 m3 sehari. Kira-kira 75% dari volume itu merupakan sampah organik atau 97,5-1L2,5 m3, Dari jumlah itu dapat dihasilkan 50 ton kompos. ltu sehari!
Padahal setiap 2-2,5 kg kompos cukup untuk memupuk t0 m2 lahan hortikultura. Artinya, setiap hari tersedia kompos untuk lahan seluas 20-25 hektar. Usaha pengomposan
sampah kota memberi sumbangan berarti pada kebutuhan pupuk di kota yang bersangkutan. ltu sekaligus menyelesaikan masalah klise persampahan kota, yakni keterbatasan ruang. Tentu saja, efek domino pengolahan sampah kota menjadi pupuk sangat panjang. Selain meningkatkan kebersihan,kesehatan, estetika, pengolahan itu juga meningkatkan anggaran belanja daerah. Kompos dari sampah kota memiliki nilai jual sebagai sumber pendapatan asli daerah. Pengolahan sampah kota menjadi kompos memiliki multimanfaat. Tentu saja pengomposan sampah kota menjadi alternatif penyelesaian beberapa jenis krisis global saat ini.
Energi baru. Model pertanian terpadu sangat memungkinkan petani untuk membudidayakan tanaman pangan sekaligus memelihara hewan dengan biaya terjangkau. Pertanian berkaitan dengan energi, terutama bahan bakar minyak. Akibat krisis energi biaya transportasi menjadi mahal . Harga pupuk dan pestisida juga melambung.
Krisis ekonomi boleh saja menggoyangkan keuangan sebuah negara, tapi tidak menyentuh petani. Lebih-lebih karena dalam hal pangan, petani berdaulat. Pertanian terpadu memberi kontribusi lebih ketika keterpaduan diisi oleh lebih dari dua
jenis kegiatan.
AYO KITA MULAI DAB!!!
jangan lupa komentarnya yah..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Petani Herbal

Petani Herbal
Herbal Bondowoso